Serba – Serbi Mencari Sekolah (Sambil Curhat Colongan)

Picture Courtesy by Unsplash

Dua hari pasca sembuh dari flu, saya mulai menyeret diri saya sendiri untuk kembali rutin berjalan pagi sambil berjemur di bawah matahari pagi. Pas banget di hari itu saya bertegur sapa dengan tetangga baru yang baru pulang jalan pagi. Kami ngobrol macam – macam, salah satu topiknya adalah mengenai sekolah anak.

Kebetulan juga, di post sebelumnya yang berjudul ‘Adios, Diapers!‘ saya bercerita tentang Ammar yang pelan – pelan sudah mulai lepas pampers sehingga budget untuk itu bisa dilonggarkan sedikit. Lalu dialihkan kemana budgetnya? Tidak lain dan tidak bukan ke budget sekolah, dong.

Apakah saya sudah memiliki rencana akan menyekolahkan Ammar kemana?

Sejujurnya, belum. Mulai sekolah umur berapa saya pun belum yakin mengingat kondisi pandemi yang belum tau kapan membaik. Awalnya saya berniat mulai megenalkan sekolah yang resmi ketika Ammar berumur 4 tahun, tapi kalau kayak gini jadi mikir – mikir lagi, deh. Tetangga baru saya itu ternyata anaknya juga berusia 4 tahun dan saya mengutip ucapannya “Aduh, capek banget. Aku setiap hari berantem terus sama anakku”.

Saya juga belum tahu pilih instansi sekolah yang mana. Di daerah sekitar rumah saya ada buanyak pilihan sekolah dengan berbagai karakter. Ada sekolah universal yang basisnya kurikulum internasional, tidak mengajarkan agama, dan uang bayaran per bulannya sama dengan harga Vespa baru. Ada juga sekolah berbasis agama yang mendoktrin di Indonesia hanya ada 1 agama. Ada juga sekolah yang masuknya susah setengah mati dan harus waiting list sedari anaknya (mungkin) masih embrio di rahim saking lama nya.

Iya bingung, saking sekarang sekolah banyak banget dan harus benar – benar picky sebagai orangtua. Picky dari lingkungan, picky dari kemampuan finansial juga pastinya lol.

Kalau dari segi lingkungan, saya kepingin lingkungan yang aman pastinya. Jangan sampai ada cerita penculikan atau seperti di salah satu daerah, pihak sekolah lalai dan membiarkan salah satu anak hanyut mengingat di depan sekolah terdapat kali besar.

Sekolah yang isinya kaum borjuis dan hedonis juga saya hindari. Pait ya, tapi sebagai salah seorang yang pernah mengenyam pendidikan di salah satu sekolah elite di Jakarta, kenyataannya ya seperti itu.

Dulu saya bersekolah di SD Negeri yang mayoritas orangtuanya adalah golongan menengah ke bawah. Menjadi satu – satunya anak yang terlahir dari keluarga mampu di angkatan saya bikin kadang ada di atas angin cenderung belagu karena siapa, sih yang nggak kenal sama saya?

Saat kelas 6 SD Ayah saya menawarkan untuk tes di SMP Elite dan dilalah saya lulus. Senang bercampur kaget, karena begitu saya masuk di hari pertama hampir semua teman – teman memegang handphone Nokia 3650 yang di tahun itu belum lama launching sementara saya nggak diizinkan punya handphone.

Dari segi obrolan pun saya susah nyambung. Kebanyakan sudah sampai di topik “Gue lebih suka frappe-nya The Coffee Bean daripada Starbucks” sementara kopi termahal yang saya minum adalah Nescafe Ice. Atau, suatu hari teman saya memperlihatkan dia baru saja membeli body mist wangi Vanilla keluaran Bath and Body Works yang dibeli di Pondok Indah Mall , yang mana saya belum pernah mampir ke toko tersebut karena selama 13 tahun hidup di dunia, parfum termahal yang saya pakai Pucelle dari Swalayan Naga 😂

via Giphy

Emang sih, dilarang menggeneralisir kalau sekolah mahal itu isinya begitu semua, karena lagi – lagi akan kembali lagi ke orangtua. Iya, bagi yang orangtuanya mampu hal – hal seperti memberikan liburan ke luar negeri setiap 2 kali setahun atau gadget yang dipakai minimal keluaran Apple ya nggak masalah. Sayangnya, saya masih berada di golongan menengah ngehe seperti yang sering disebut Mbak Icha dari annisast.com 😜

Nah, pas banget nyebut nama beliau, beberapa bulan yang lalu Mbak Icha sempat membahas tentang sekolah dan mengutip perkataan Mbak Icha ‘sebisa mungkin bagi yang mampu mending sekolah di swasta aja’. Hmm, maaf banget saya agak kontra sama pendapatnya.

Meskipun saya belum benar – benar memilih mau menyekolahkan Ammar dimana (secara anaknya juga baru 2 tahun ya), tapi saya sempat melirik SD Negeri percontohan di daerah sini.

Buat yang belum tahu, SD Negeri percontohan ini agak berbeda daripada SDN pada umumnya. Kurikulumnya sama, namun ada ekstrakurikuler dan beberapa fasilitas yang lebih unggu karena dianggap role model oleh SD Negeri lain. Murid – muridnya pun harus melewati beberapa tes masuk dulu. That’s why they called ‘percontohan’.

Dikarenakan murid – murid di dalamnya pun ‘pilihan’, otomatis anak – anaknya lebih memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Alasan yang lebih tepatnya lagi kenapa saya memprioritaskan kesana adalah, tidak semua anak – anaknya dari kalangan menengah ke atas. Karena sekolah negeri, pasti ada beberapa juga yang (mungkin lhoo) perekonomiannya menengah ke bawah.

Nggak bermaksud untuk membandingkan hidup kita dengan orang lain, tapiii tidak bohong juga kalau saya pastinya akan mengajarkan Ammar untuk lebih mensyukuri apa yang kita punya karena tidak semua orang seberuntung dia.

Kalau ngomongin soal privileged, apakah sekolah di tempat yang mahal dan lebih bagus bikin kita punya kesempatan lebih besar untuk sukses? Saya rasa nggak juga. Andaikan si anak pintar bergaul dan diterima teman – temannya dengan sikapnya yang apa – adanya mungkin mimpi sukses itu jadi kenyataan yang mudah, tapi yang saya sering dengar bahkan kebalikannya.

Contoh konkritnya begini; Pertama, di SMP saya punya teman yang satu – satunya di angkatan saya dikategorikan ‘kurang mampu’. Ayahnya supir angkot dan kulit teman saya ini hitam. Bukannya bersimpatik, kebanyakan malah mencap dia gembel.

Contoh kedua adalah sepupu saya sendiri. Dia belum pernah ke luar negeri sekalipun sementara dia mungkin sudah capek mendengar teman – temannya menceritakan kisah liburan mereka. Akhirnya, di suatu waktu dia lihat koleksi pulpen saya yang rata – rata dibeli dari luar negeri, entah itu hasil nitip teman atau saya beli sendiri. Sialnya dia ketahuan sama saya, dan waktu ditanya dia bilang buat pamer ke teman – temannya karena dia sering bohong kalau ibunya sering dinas ke luar negeri :”(

Anyway, sepupu saya yang lain kebetulan juga ada yang bersekolah di SD Negeri percontohan di Jakarta. Terus SMP – SMA nya juga lanjut ke sekolah negeri ternama dan sekarang sudah jadi dokter lulusan dari Universitas Terbaik di Indonesia.

Ternyata nggak selalu kok sekolah negeri, (apalagi SD) itu mencetak anak – anak yang nggak outstanding. Kembali lagi ke orangtuanya sih kayaknya. Kalau orangtuanya nggak ada biaya untuk pendidikan dan nggak membekali pemahaman yang baik tentang pentingnya sekolah setinggi mungkin ya bakal tetap susah.

Sekian postingan hari ini dari ibuk – ibuk yang lagi menabung untuk sekolah anak dan nggak tahu apakah nanti di saat Ammar mulai masuk sekolah akan tetap berjalan dari rumah atau sudah leluasa main di sekolah huhuuu 😚

1 thought on “Serba – Serbi Mencari Sekolah (Sambil Curhat Colongan)”

  1. Salam kenal Mbak, biasanya aku silent follower tapi ingin nimbrung karena setuju banget sama pendapatnya! Melihat keponakan yang sekarang sekolah di international school: secara personal bagus banget development-nya, tapi kayak terlepas dari realita sama sekali. Misalnya heran kenapa ada orang mau naik ojek atau kendaraan umum. Saya jadi bertekad untuk memperkenalkan anak sama lingkungan yang lebih heterogen supaya dia belajar empati (walaupun anak saya masih 7 bulan, masa sekolah masih lamaaa hahaha). Semoga Mbak dan Ammar segera berjodoh dengan sekolah yang pas yaa!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s