Pengalaman ke Spesialis Tumbuh Kembang Anak

Kali ini, saya mau bercerita pengalaman saya mulai dari pendaftaran, biaya konsul, dan curhatan yang agak panjang tentang hasil dari konsul tersebut.

Sejujurnya saya sudah lamaaa sekali berada pada waiting list pasien di Klinik Tumbuh Kembang Rumah Sakit KMC, Kemang. Saya sudah mendaftar semenjak akhir September dan dapet giliran tanggal 2 Desember. Gila banget nggak, sih antriannya?

Beberapa hari sebelumnya, tiba – tiba pihak Klinik menelepon saya dan bilang ada pasien cancel untuk tanggal 18 November. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya nggak pake pikir panjang, saya langsung iyain untuk konsul lebih cepat.

Jam 9 pagi saya sudah on the way ke rumah sakit bersama Ammar dan Mbak. Alhamdulillah semenjak pandemi jalanan nggak macet seperti dulu, jadi janji jam 10 pagi pun kami bisa datang lebih cepat setengah jam sebelumnya.

Ini pertama kalinya saya ke rumah sakit semenjak pandemi berlangsung. Sampai disana, sebelum masuk kami di ukur suhu tubuh dulu layaknya protokol fasilitas umum lainnya. Setelahnya saya diminta registrasi dulu di Admission lalu menuju Klinik Tumbuh Kembang di lantai 5.

Sesampainya di lantai 5, saya melapor ke suste. Ammar diminta untuk ukur tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala. Selang 5 menit kemudian kami dipersilahkan masuk. Ternyata di klinik ini terdapat 2 dokter, yaitu dokter Alinda dan dokter Trisna.

Eh, saya belum bilang ya mau ngapain, sih emangnya saya di klinik Tumbuh Kembang?

Saya sudah sering bilang dong kalau Ammar ini prematur. Sebetulnya dokter anak langganan Ammar sudah lama menyarankan saya untuk ke Klinik Tumbuh Kembang buat memastikan apakah perkembangan Ammar sesuai dengan umurnya – umur koreksi maupun umur kronologis.

Oke, lanjut.

Pertama, saya diminta menemui dokter Trisna yang mana lebih khusus melihat perkembangan anak. Ternyata hasilnya perkembangan Ammar sangat sesuai dengan usia kronologisnya. Bicara sudah bisa lebih dari 50 kata, berjalan sudah seimbang, dan sudah mengenal bagian – bagian dari tubuhnya. Sayangnya, Ammar nggak menunjukkan karena Ammar tipikal anak yang takut dengan orang baru. Jadi lebih banyak diam dan memeluk saya sepanjang berada di ruangan.

Gambaran ruang observasi. Picture courtesy by Klinik Lalita

Dokter Trisna menyarankan untuk sering main di luar. Nggak perlu harus ke playground mengingat kondisi sekarang berbahaya untuk keluar rumah. Minimal, kalau ada taman di komplek ya rutin misal setiap sore main bola di taman.

Di dalam ruangan dokter Trisna kami nggak lama, mungkin hanya 15 menit. Sempat ke ruang observasi yang isinya banyak mainan, perosotan, dan trampoline tapi Ammar just being Ammar. Nempel terus ke saya nggak berani ngapa – ngapain.

Kesan saya terhadap dokter Trisna beliau kurang atraktif. Nggak banyak ngajak ngobrol dan observasinya kurang luas.

Setelah dari ruangan dokter Trisna, kami diarahkan ke ruangan dokter lainnya, yaitu dokter Alinda. Dokter Alinda ini spesialis pertumbuhan. Ketika di ruangannya, ada satu suster yang menemani dan mengajak Ammar main. Saya diminta duduk diam dan membiarkan mereka berdua sementara dokter Alinda mengobservasi.

Disinilah saya cukup terpukul.

Dokter Alinda menyimpulkan Ammar memiliki gangguan psikososial, yang mana gejala yang terlihat adalah sulit beradaptasi dengan lingkungan dan orang baru. Gejala lainnya adalah emotionless. Selama di ruangan tidak ada satu kata keluar dan tidak ada antusiasme yang ditunjukkan.

Oh iya, dokter Alinda itu seperti pembaca tarot. Dia bisa menebak penyebab Ammar sulit berperilaku seperti itu.

“Di rumah, ada yang terlalu over protektif sama Ammar ya, Bu”. Ada, Ibu saya. Tiap Ammar bergerak tidak lupa meneriakkan ‘awas jatuh’ atau ‘anak tuh anak diliatin’.

“Apa pernah dimarahi dan dilarang – larang?”. Sering, sama saya. Ini merupakan pukulan bahkan tonjokkan buat saya.

“Apa ada pola asuh yang berbeda 180 derajat yang dilihat Ammar di rumah?”. Ada, antara saya dan Ibu saya. Contohnya di waktu makan saya nggak pernah membiasakan Ammar untuk makan sambil nonton Youtube sementara dengan baiknya sang Nenek akan menyodorkan handphone yang dipasang Youtube.

See, bener semua, kan? Bahkan dokter Alinda juga tahu kalau saya perfeksionis dalam mengasuh anak, yang mana ini merupakan turunan dari pola asuh orangtua saya dahulu dan menjadikan saya juga sulit beradaptasi seperti Ammar.

Sejujurnya saat di ruangan jadinya bukan Ammar yang konsultasi tapi malah saya hehehe.

Terus gimana caranya supaya Ammar lebih ekspresif dan berani?

Dengan membenahi pola asuh sebelumnya. Kalau sebelumnya saya sering marah dan melarang, sekarang harus lebih sabar dan pengertian. Gimanapun juga mereka anak – anak. Memberikan arahannya pun harus berulang kali dan selembut mungkin.

Saya pun diminta untuk tidak menunjukkan ketidak-sukaan pola asuh ibu saya di depan Ammar langsung. Kalau memang mau menegur ya jangan sampai Ammar lihat. Nantinya malah bikin dia bingung. ‘Sebenarnya, siapa yang harus aku turutin?’.

Selain pola asuh, dokter Alinda juga mengoreksi berat badan Ammar. Memang sebulan ini Ammar sering sekali GTM dan berat badannya pun turun hampir sekilo! Gimana Mamak nggak stress jadinya -,-

Ammar disarankan untuk banyak konsumsi daging dan susu tambahan Nutrinidrink. Saya pernah beli Nutrinidrink dan berakhir ke tempat sampah karena Ammar kurang suka. Beberapa hari ini pun saya kasih daging dan hasilnya Ammar lebih suka Sliced Beef yang banyak lemak dan daging giling. Saya kasih Saikoro Cube, eh dilepeh.

Untuk saran berat badan – setelah saya ingat perkataan Mertua – saya jadi nggak terlalu ambil pusing. Suami saya tuh kurus dan dulu Mama Mertua memang bilang kalau tiap habis dari posyandu selalu hasilnya Adit dikategorikan kurang gizi. Padahal mah makannya nggak susah.

Anyway, dokter Alinda juga menyarankan Ammar untuk ikut theraplay sama Psikolog Perkembangan. Sorenya saya DM Mbak Gesi alias Mami Ubii dari gracemelia.com karena beliau adalah salah satu Play Therapist di Indonesia.

Responnya ternyata Theraplay disarankan untuk usia 4 tahun ke atas. Mungkin ada baiknya kalau saya sebagai Primary Caregiver yang konsul duluan untuk memperbaiki pola asuh karena siapa tahu ada Inner Child yang masih terluka dan belum sembuh.

Semoga ada perkembangan yang lebih baik, yaa. Oh ya, ada yang punya saran psikolog perkembangan yang oke (dan pastinya terjangkau) untuk saya datangi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s