Parenting, not Childrenting

Masuk ke tahun kedua saya menjadi orangtua, sering sekali saya mendengar kata ‘Terrible Two’, yang mana merupakan sebuah sebutan dalam fase tumbuh kembang seorang anak di usia 2 tahun.

Akhir – akhir ini saya lagi sering – seringnya merasa lemas karena adrenalin saya bisa tiba – tiba dipicu untuk naik dan terkejut. Bukan, bukan karena habis naik roller coaster, tapi karena kelakuan ajaib si anak lanang.

Contoh hal – hal yang bikin saya suka spot jantung itu misalnya dia lagi senang loncat – loncatan dari kasur. Tempat tidur saya cukup tinggi jaraknya dengan lantai, mungkin ada 15 sentimeter. Di bawahnya sudah saya alasi dengan kasur kecil namun tidak jarang dia meleset saat loncat. Bukannya mendarat di kasur tapi malah ke karpet. Setelahnya, dia nangis beker – beker.

Contoh lainnya adalah sekarang dia sudah pintar membuka pagar, membuka pintu, merendam handphone kakeknya ke air minum, sampai ke pintar memainkan stop kontak listrik yang ada di rumah.

Kalau ada yang coba ngasih saran bilang “coba kasih mainan edukatif aja, Sis”, sorry saran kalian nggak laku. Saya udah beli deh segala mainan edukatif tapi hanya bertahan 5 menit paling maksimal. Selebihnya dia lebih senang main panci, remote teve, kunci mobil, dkk. Sudah pernah beli beezyboard, udah sampai rusak dianiaya sama Ammar itu papan. Kalau dia berwujud manusia, mungkin sudah nangis itu beezyboard 😂

Ternyata belum selesai disitu, Sobat. Di fase ini manjanyaaa minta ampun. Sekarang lebih sering minta digendong. Mau tidur pun harus gendong. Gendongnya harus berdiri, nggak mau duduk. Udah tidur pun kalau tiba – tiba posisi kakinya nyentuk kasur langsung terbangun lagi. Terus ngamuk lagi. Gantian gendong sama Papanya dia emoh, harus Mama yang gendong. Iya tau, sih Mama emang empuk hahahaha.

Untungnya sih sekarang nenen malam sudah berkurang frekuensinya. Cuma ya itu, di keseharian tuh nempel buanget. Mau mandi aja susah, karena digedor – gedor macam di MCK umum. Lagi makan tiba – tiba dia minta nenen. Pegang handphone sebentar eh ada tangan kecil yang ikutan nge-scroll layar hape.

LELAH, SAUDARA -SAUDARA! Akhirnya sering banget kelepasan melampiaskan emosi ke Ammar.

Sampai akhirnya saya nemu video di Instagram yang judulnya ‘This Could Be The Last Time’. Isinya cuplikan gambar para Ibu dan anaknya, disertai tulisan macam gimana kalau misalnya ini adalah hari terakhir kita gendong anak kita karena mereka akan terus tumbuh dewasa. Ketika besok mereka mandiri dan tidak butuh kita lagi. Ketika mandi menjadi sebuah rutinitas singkat, nggak ada lagi berendam di dalam bak mandi sambil main semprot air dan menghitung bebek – bebek kecil.

Lalu saya mewek.

Betapa tidak bersyukurnya saya memiliki seorang Ammar. Padahal saya sering sekali bercerita bagaimana kuatnya keinginan Ammar untuk tetap hidup setelah lahir dengan keadaan belum matang dan terpasang kabel – kabel di tubuhnya.

Padahal mungkin tingkah lakunya yang saat ini super nagging karena buat Ammar saya adalah his center universe, tempat dia berlindung.

Setelah melihat video tersebut saya jadi sering sekali mengobservasi gerak – geriknya. Saya jadi tersadar anak yang dulu hampir seukuran dengan air mineral 1 liter sekarang sudah begitu besar. Sudah bisa mengambil minum sendiri, sering keras kepala berusaha menyuap nasinya sendiri, bahkan sudah pandai menunjukkan emosinya.

Kemarin, di komunitas para ibu kebetulan ada yang bercerita mengenai pengalamannya ke ahli tumbuh kembang. Kata – kata teman saya yang paling diingat begini

Sebetulnya kita yang harus beradaptasi dengan anak. Anak tidak kurang ataupun bermasalah. Kita lah yang lebih banyak kekurangannya.

Jleb! Tambah berasa ketusuk saya dengarnya. Iya, makanya ilmunya dibilang parenting, bukan childrening. Orangtua lah yang harus banyak belajar. Orangtua lah yang harus lebih sabar dan pengertian.

Untuk Ammar, semoga Mama bisa lebih banyak belajar untuk bikin Ammar bahagia ya 😊.

3 thoughts on “Parenting, not Childrenting”

  1. Bener sekali mbak..umur dua tahun itu beneran terrible two hehe.. cuma kita nya yang masih harus belajar sabar. setuju kalau dibilang parenting : belajar jadi orang tua, bukannya childrenting.
    Semoga kita bisa jadi orang tua yang terus belajar ya Bunda Ammar 🙂 Salam 1m1c dari saungbelajaraisyah.blogspot

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s