Sulitnya Korban Pelecehan Seksual Untuk Bicara

Picture courtesy by Unsplash

Tulisan ini terinspirasi dari maraknya pemberitaan tentang perempuan yang saat ingin melakukan rapid test di Soekarno – Hatta diberlakukan tidak senonoh oleh petugasnya. Pun beberapa hari sebelumnya salah seorang teman saya, sebut saja namanya Shizuka – akhirnya buka suara tentang dirinya yang pernah menjadi korban pelecehan seksual. Mirisnya, pelaku masih ada hubungan keluarga dengan dia.

Disclaimer : sebelum menulis tema ini, saya sudah izin terlebih dahulu dengan teman tersebut. Teman saya pun setuju.

Sesaat sebelum saya izin, saya sempat mengobrol sedikit dengan teman saya tersebut. Dimulai dengan (akhirnya), saya berani bersuara kalau saya juga pernah menjadi korban pelecehan seksual. Saat itu saya masih duduk di kelas 5 SD. Kalau kata orang, saya masih di usia ‘baru-tumbuh-tetek’.

Bukan kejadian yang gimana – gimana, tidak sampai melakukan hubungan seksual. Amit – amit! Namun menggesekkan kemaluan ke tubuh seseorang juga merupakan sebuah tindakan asusila bukan? Saat itu siang hari. Saya biasa memanggilnya Om – dia adik sepupu Ibu saya. Dengan iming – iming banyak bacaan komik di kamarnya, saya mau mengikutinya.

Bodohnya, saya baru sadar kalau itu adalah tindakan bejat beberapa hari setelahnya. Kok bisa? Karena saya selalu kepikiran ucapannya seperti ini

“Jangan bilang – bilang sama Mami, ya”.

Sampai hari ini, hanya teman saya tersebut yang tahu. Dua hari setelahnya Adit tahu. Saya akhirnya berani menceritakan kejadian tersebut. Sambil ketawa – ketawa, tapi sebenarnya badan saya gemetaran. Tanggapan dari Adit adalah “nggak waras kali tuh orang, ya”. Diucapkan dengan nada datar. Adit tetaplah Adit 😂.

Pada akhirnya, orang – orang yang membaca tulisan ini tahu. But that’s okay, karena saat mengobrol dengan teman saya, dia bilang banyak sekali DM yang masuk setelah curhatan panjang – lebarnya and most of them are scared to tell the stories, even to their parents.

Kenapa kebanyakan korban pelecehan seksual takut untuk melapor kejadian tersebut?

Pertama, dan paling utama adalah tidak mau menjadi bahan omongan orang. Malu, nanti dibicarakan macam – macam. Ujung – ujungnya malah disalahkan. Disalahkan karena pakaiannya terlalu terbuka lah, dibilang nggak bisa menjaga aurat lah, ini lah itu lah yang malah menyudutkan si korban.

Padahal, bisa jadi saat kejadian korban adalah wanita berpakaian sangat sopan dan tertutup. Padahal, saat itu saya berpakaian selayaknya anak esde yang belum tau fashion dengan celana jeans panjang dan kaos kebesaran. Tapi tiba – tiba saat orang – orang tahu kalau kita menjadi korban, semua langsung berubah menjadi analis.

Kedua, sulit untuk meyakinkan lawan bicara kita kalau nggak ada bukti fisik.

Ambil contoh dari kejadian di Soekarno – Hatta ya. Setelah baca – baca di beberapa artikel, Si Mbak-nya ini berusaha melaporkan ke aparat penegak hukum di Nias namun disarankan buat lapor di kota tempat kejadian. Di kota kejadian pun rada susah buat bikin orang – orang ini yakin tapi beruntungnya si Mbak punya bukti yang kuat.

Lha sementara seringnya yang nggak punya bukti tuh malah dianggap ngarang atau mengada – ada. Saya jadi teringat waktu kelas 6 SD saat UAN, ada 3 orang teman sekelas yang jadi korban pelecehan oleh guru pengawas. Payudaranya diraba – raba, guru itu bilang nggak sengaja karena mau benerin dasi.

Sepulang ujian semua korbannya menangis dan melapor ke guru lain. Tau tanggapan guru tersebut apa?

“Nggak sengaja kali”.

Sayangnya saat itu saya (dan teman – teman lainnya) hanya anak kecil berusia 12 tahun. Belum bisa berargumentasi, apalagi membela diri. Ibu guru tersebut terkesan membela karena mungkin nggak menyangka selama ini guru yang terlihat diam dan alim itu bisa terpikir untuk meraba – raba muridnya.

Alasan terakhir ini, sebetulnya lebih ke pengalaman pribadi ya. Kurangnya kedekatan antara orangtua dan anak. Saya dan Mami tidak pernah yang namanya bertukar cerita karena saya tuh males, tiap cerita bukannya didengarkan apalagi dibela tapi ujungnya malah nanti saya kena omel. Lalu, saya orangnya cenderung santai sementara Mami tuh over-worried. Contoh mudanya misalkan saat travelling. Bisa dibaca di postingan Japan Travel Journal #1 betapa heboh dan rempongnya beliau hahaha.

Saya baru dekat dengan Mami ketika pergi merantau untuk melanjutkan sekolah. Belum pernah benar – benar pisah rumah, akhirnya kami bisa jadi teman ngobrol.

Ketidak-akuran saya dan Mami ini salah satu yang bikin saya terus introspeksi dan berbenah diri, sehingga nantinya Ammar nggak punya luka inner child seperti saya. Saya nggak berharap kami bisa menjadi teman akrab, tapi at least nantinya setiap Ammar ada masalah, saya lah orang pertama yang dia tuju untuk bersandar.

***

Balik lagi ke cerita saya.

Kalau ada yang nanya terus dimana sekarang keadaan orang yang melakukan pelecehan seksual terhadap saya tersebut? Ada, bahkan dia masih punya muka untuk follow instagram Adit. Lucunya, pasangannya juga follow instagram saya meskipun kami cuma pernah ketemu sekali 🙂

Harapan saya, semoga kita bisa menjaga generasi di bawah kita ya dari manusia bejat yang otaknya terletak di kelamin tersebut. Amin.

6 thoughts on “Sulitnya Korban Pelecehan Seksual Untuk Bicara”

  1. Kak Ayu, so sorry to hear that 😦
    Tapi Kak Ayu cukup strong untuk akhirnya berani terbuka ke pasangan dan teman-teman di sini. Aku tahu pasti nggak mudah.
    Aku lihat semakin ke sini, semakin banyak korban pelecehan seksual yang berani speak-up di medsos dan menurutku ini lebih baik daripada dipendam sendiri yang kemudian bisa membuat depresi. Sulit memang untuk speak-up, apalagi ke orangtua sendiri. Dan, yang selalu aku heran adalah kenapa kalau ada cerita soal pelecehan seksual, selalu pihak korban yang disalahkan 😤
    Pemikiran masyarakat yang seperti ini harus dihapuskan nih!

    Like

  2. Bener banget kak! Pernah baca komen ada yg bilang “negera nggak bisa melindungi kita, jadi kita harus bisa melindungi diri kita sendiri” dan menurut aku itu relate dengan keadaan yg terjadi sekarang. Tapi tetep aja, orang bejat kayak begitu harus di kasih hukuman!!!

    Like

  3. Ngomongin pelecehan seksual di negara yang anak kandungnya patriarki susah mba, saya geram juga sih sama berita pelecehan rapid test tersebut.

    Kalau mba pernah nonton film Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak, di sana sedikit banyaknya digambarkan bagaimana oknum dan hukum di negri ini menganggapi kasus pelecehan seksual, Marlina harus meyakinkan orang-orang bahwa dia adalah korban dan saat intrigasi pun ditanyai pertanyaan yang cendrung melecehkan karena di sana Marina adalah janda. Intinya kenapa korban susah ngomong stigma sih.
    Ngomongin pelecehan seksual nggak ada habisnya emang, everyday is new case.

    Like

  4. nyesek juga baca cerita pengalamannya

    gue enggak abis pikir, sama orang-orang yang masih tega ngelakuin hal seperti itu
    jujur aja, hal kayak gini pengen gue jadiin bahann obrolan sama adek gue sendiri. karena dia perempuan. tapi bingung juga gimana caranya mulai topik obrolannya. ada saran?

    Like

  5. Sungguh menyebalkan untuk penanganan kasus pelecehan yang terkesan lambat dan tidak percaya tanpa bukti fisik. Di negara kita memang, si korbam pasti jadi bahan omongan dan karakternya dibunuh oleh orang2 yang seharusnya membelanya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s