Japan Travel Journal #5 – Fujiyama & Wearing Kimono in Asakusa

Kali ini tulisannya saya rangkap untuk dua hari karena pertama, di Fujiyama saya setengah hari di Gotemba yang mana fokus belanja. Nggak sempat, Beb buat foto – foto hahaha. Kedua, di hari setelahnya cuma berada di sekitar Asakusa. Malamnya sih mampir Odaiba tapi lagi – lagi tujuannya belanja.

Hari ini saya ikut dalam rombongan tour. Akhirnya, nggak capek naik – turun kereta dan ngangkut stroller lagi :’)

Penginapan saya kali ini di Asakusa juga nggak kalah enak dibandingkan sebelumnya. Bedanya, ini bentuknya rumah 2 lantai. Masing – masing lantai terdapat satu ruang besar untuk tidur, ada ruang makan, dan dapur. Tiap orang tidurnya dengan tatami atau kasur lipat seperti di rumah Nobita. Asik banget hahaha.

Sebelumnya Ibu saya tuh sempat khawatir tidur di kasur ngemper gitu takutnya malah badan jadi pegal semua. Saya bilang nggak bakal, dan sebelumnya pun saya sudah make sure sama pemilik rumah kalau kasurnya itu empuk. Bukan kasur keras macam kasur palembang gitu.

Rumah ini tuh baru jadi sekitar dua bulanan makanya di Google Maps waktu itu belum ada. Happy banget dapet penginapan yang semuanya serba masih baru.

Lanjut ke cerita perjalanan ke Fujiyama.

Kami sengaja pilih hari itu pergi ke Fuji dan Gotemba karena pas banget minggu itu ada Golden Week. Kata Tina, tour guide kami orang – orang lokal biasanya banyak yang liburan juga dan pastinya jalanan bakal macet. Sayang kalau kelamaan kena macet nanti malah jadi nggak puas belanja :p.

Kami berangkat dengan minivan. Benar saja, walaupun sudah sengaja menghindar pergi satu hari sebelumnya kami tetap kena macet.

Pemberhentian pertama kami adalah Lake Kawaguchiko. Karena Tina tahu saya nggak berkesempatan untuk liat Red Kochia di Hitachi Seaside Park, jadi sengaja dimampirin untuk berfoto sebentar.

Disana ada apa lagi? Ada jajanan dong. Senangnya tuh di tiap tempat wisata di Jepang jajanannya menarik.

Setelah puas jajan, karena sebentar lagi jam makan siang dan kita semua kepingin makanan khas Jepang, akhirnya kita diajak ke Iyashi No Sato, sebuah perkampungan di Kawaguchiko yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi museum. Perjalanan dari Lake Kawaguchiko ke Iyashi No Sato memakan waktu satu jam.

Iyashi No Sato dulunya adalah perkampungan bagi para petani di sekitar Kawaguchiko. Namun hancur karena taifun di tahun 1966. Daerah ini alih fungsi menjadi museum terbuka setelah 40 tahun.

Dari pintu masuk, kita merasakan sensasi berkunjung ke rumah penduduk yang di tiap rumahnya ada yang menjadi restoran, tempat penanaman wasabi, atau museum tekstil.

Setelah satu jam berada disini, kami langsung menuju Gotemba Premium Outlet. It’s time for shoppiiingggg hahaha.

Sayangnya kami nggak ada foto sama sekali sih disini. Soalnya kami sampai sudah jam 3 sore sementara jam 8 malam sudah tutup. Apalagi saya bawa bayi jadi agak rempong yaa mau foto – foto hehehehe.

NEXT DAY STROLL AROUND ASAKUSA

Di hari berikutnya, agenda saya dan Adit akan berbeda dengan keluarga saya.

Pertama kami akan pergi ke tempat penyewaan kimono dan berfoto di sekitar Asakusa termasuk kuil Senso – Ji. Tempat penyewaannya persis di seberang Tokyo Skytree.

Kalau ditanya berapa biaya sewanya saya kurang tahu karena semua diurus Tina dan kita semua dibayarin Mami saya. Awalnya saya dan Adit menolak untuk pakai kimono dengan alasan Adit ogah ribet dan saya sudah pernah sebelumnya. Cuma karena Mami agak memaksa dan kepingin foto sekeluarga full team jadi yaudah kita nurut aja.

Penyewaan kimono ini sudah satu paket dengan tas, sandal, dan jasa hairdo untuk perempuan. Tentunya harga sewa perempuan lebih mahal daripada laki – laki. Juga durasi penyewaannya seharian, namun kami ada tujuan lain yang menunggu sehingga nggak sampai dua jam kimono sudah kami kembalikan.

Setelahnya saya dan Adit berkeliling Asakusa sementara orangtua dan Adik – adik pergi ke festival kuliner Malaysia. Papi rindu masakan melayu katanya.

Waktu sudah menujukkan saatnya makan siang. Salah satu wishlist saya selama di Jepang adalah nyobain Gyukatsu dan pas banget di Asakusa ada restoran yang mengantri panjaaang sekali hanya untuk seporsi Gyukatsu.

Karena kami sudah lapar sekali, sebelumnya Adit mengajak untuk makan yang lain. Okelah, akhirnya kami makan dulu di restoran terdekat.

Di kebanyakan restoran Tokyo, kalau mau memesan makanan pertama kita harus pilih menu di vending machine. Masukkan koin lalu tekan menu yang diinginkan. Setelahnya kita akan dapat nomor antrian dan menyerahkan antrian tersebut ke bagian dapur. Lalu kita tinggal menunggu nomor antrian kita dipanggil.

Setelah makan kami berjalan – jalan lagi di sekitar kuil. Hari itu ramai sekali sehingga kami nggak bisa sampai ke dalam kuil. Nggak apa lah, tujuannya kan cuma buat nurunin makan siang tadi sebelum makan gyukatsu lol.

Setelah puas berjalan kami kembali ke restoran Asakusa Gyukatsu. Antriannya masih panjang. Akhirnya kami ikut antrian selama hampir 2 jam! Adit udah bete sebetulnya karena udara hari itu dingin dan Adit jadi flu. Makasih ya sayang akoohh, udah bela – belain sakit demi ngidam istrinya terpenuhi 😜😚.

Setelah berhasil masuk, Asakusa Gyukatsu ini tempatnya kecil sekali. Berasa makan di gang senggol. Stroller pun harus diparkir di depan. Untungnya Ammar tidur saat itu jadi kami bisa makan dengan tenang.

Saya nggak menyesal harus menunggu dua jam karena ternyata memang enak banget! Dagingnya empuk, begitu masuk ke mulut rasanya langsung meleleh. Sausnya yang asam manis pas banget dimakan sama nasi panas.

Seporsi Gyukatsu harganya 2000 Yen. Oh ya, jangan lupa sedia cash karena mereka nggak menerima pembayaran dengan kartu.

Selesai makan, pas sekali Tina menelepon dan mengajak ketemuan di Odaiba Mall. Langsung lah dari Asakusa kami naik kereta kesana. Jarak Asakusa ke Odaiba nggak begitu jauh, hanya 2 stasiun.

Hari sudah gelap ketika kami sampai. Sempat ambil beberapa foto tapi hasilnya kurang bagus (dan kita sudah lelah juga). Disini ya lagi – lagi kami belanja sampai pukul delapan malam.

Yass dengan ini akhirnya update tentang Jepang tinggal sehari di Disneyland karena sejujurnya saya sudah agak bosen update tentang Jepang hehehe.

Anyway, adakah yang kangen liburan?

9 thoughts on “Japan Travel Journal #5 – Fujiyama & Wearing Kimono in Asakusa”

  1. Wahh kayanya dapet banyak belanjaan tuh ya di Gotemba! >.< Aku juga sempat masukin Fujiyama dan Gotemba sebagai rangkaian perjalananku selama ke Jepang. Tapi suami ga begitu sreg untuk bela-belain ke sana cuma karena ingin shopping dan liat Fujiyama. Belom tentu dapet momen yang pas pulak. Jadilah ga ke sini huhuhu

    Btw itu sayang banget sewa kimononya cuma 2 jam 😭😭😭 Padahal sekali sewa biayanya bisa satu juta lebih kak…. Huhuhu

    Gyukatsuuu memang terkenal banget ya! Dan ga nyesal antri lama untuk cobain daging sapi di sinii ^^

    Like

    1. Wahh sayang banget mba karena pas nyebrangin jembatan antara west dan east gotemba tuh pemandangannya cantik banget dan dinginnn buanget. Beda suasana deh pokoknya.

      Hehe iya abis para bapak – bapak pada gerah pake kimononya dan agak males juga kalau bolak – balik ke tempat penyewaannya pas sore hehe

      Like

      1. Dinginnya berapa derajat kak?? Ahhh semoga saja ada kesempatan lagi untuk ngunjungin Fujiyama! Ga cuma liat lewat shinkansen doaang huhuhu

        Wah masa sih gerah? Bukankah ke sana saat musim gugur yang udaranya cukup dingin? Aku selama musim gugur di sana ga pernah keringetan. Yang ada malah kedinginan wkwkw
        Tapi emang iya sih malem kalau harus balik ke tempat penyewaan lagi… Enaknya sewa di tempat yang drop pointnya tersebar. Jadi ga musti balik ke titik awal

        Like

      2. Pas jam 6 sore itu sampe 10 derajat mba. Kalau kita bernafas itu sampai keluar asap πŸ™‚

        Hehehe mbak nya salah ngerti kayaknya. Gerah maksut disini itu, gerah karena mereka merasa pake daster. Nggak bebas bergerak, jadinya pengen buru – buru ganti baju.

        Like

      3. Woow
        mantap ya kalo ke daerah gunung hehe
        aku juga pernah pas main ke Nikko yang deket gunung, kalau ngomong sampai keluar asap. Tapi gtw deh itu berapa derajat. Yang jelas super kedinginan karena bajuku ga proper.

        oooh soalnya gerah dalam bahasaku itu artinya kepanasan yang bikin sampai keringetan gituuu. hehehe

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s