Japan Travel Journal #3 : Fujiko F. Fujio Museum & Ginza at Night

Dari awal, Fujiko F. Fujio Museum ini sudah saya masukkan ke dalam daftar perjalanan kami. Pokoknya gimanapun juga harus ngajak Ammar kesana (meskipun pas sampe sana anaknya belum ngerti dan malah tidur lol).

Fujiko F. Fujio Museum (atau yang lebih sering disebut Doraemon Museum) ini terletak di Kawasaki atau daerah pinggiran Tokyo. Mungkin kalau diibaratkan itu seperti Bekasi nya Jakarta, ya. Dibangun tahun 2011 untuk mengenang komikus Fujiko F. Fujio.

Sehari sebelumnya, kami membeli tiketnya di sebuah mesin khusus penjual tiket yang ada di Lawson, Loppi Machine namanya. Harga tiketnya 1000 yen untuk dewasa. Karena beli tiketnya dadakan, kami dapat slot masuk jam 12 siang. Sekedar saran untuk teman – teman yang berencana kesana, better beli tiket dari jauh – jauh hari karena kadang bisa sampai sold out kalau sedang peak season.

Picture credit : Travel Side of Life

Pukul sembilan pagi, kami keluar dari apartemen kami di Akasaka. Karena kemarin kami belum sempat foto di Hachiko Statue, kami singgah dulu di Shibuya Station. Kali ini karena sudah tahu Shibuya Station sudah ada lift, maka kami langsung turun disana.

Sampai disana, sudah terbentuk antrian para turis yang ingin berfoto juga di Hachiko Statue. walaupun tidak seramai malam hari. Cuaca pun sekitar 21 derajat celcius dan untungnya tidak berangin dan tidak ada tanda – tanda akan turun hujan. Kami ikut mengantri sekitar lima menit lalu minta tolong orang di barisan belakang untuk mengambil gambar kami dan setelahnya gantian kami yang menawarkan untuk memfoto mereka sekeluarga.

Selesai satu misi. Doraemon Museum, here we come! Tapi sebelumnya kami mampir ke Mcdonald dulu untuk membeli dark chocolate pie dan kentang goreng untuk berjaga – jaga kalau mamanya Ammar lapar.

Dari Shibuya Station kami naik kereta menuju Noborito Station. Tidak ada jalur direct sehingga kami harus berpindah kereta. Pertama, dari Shibuya Station turun di Shimo-kitazawa dengan Inokashira line, lalu sambung lagi dari Shimo-kitazawa turun tiga stop di Noborito Station dengan Odakyu line. Kenapa turun di Noborito? Karena disana terdapat halte khusus shuttle bus yang membawa kita langsung ke museumnya.

Fujiko F. Fujio Museum ini adalah bangunan tiga lantai yang tidak begitu besar, sehingga mengelilinginya hanya cukup memakan waktu 2 – 3 jam saja.

Sesampainya disana sudah pukul setengah satu siang dan kami langsung diperbolehkan masuk setelah melakukan pengecekan tiket. Begitu masuk museum, petugas meminta kami untuk memarkir stroller di tempat khusus dan memberikan sebuah alat seperti walkie – talkie yang berguna untuk memandu kita selama berada di exhibition area. Alat tersebut tersedia dalam beberapa bahasa, yaitu Japanese, English, dan Mandarin. Oh ya, disini juga cukup ketat karena banyak area yang tidak boleh diambil gambarnya seperti Mini Theater dan Exhibition Area.

Di kanan exhibition area terdapat sebuah sumur yang jika dipompa akan mengeluarkan patung Giant dalam versi tampan seperti yang pernah ada di salah satu episode serial kartun doraemon.

Dari exhibition area, petugas museum memanggil pengunjung untuk masuk dan menyaksikan sebuah sinema kartun pendek. Ceritanya tentang Anpanman yang bersatu dengan Doraemon dan Nobita untuk melawan kejahatan. Tiga tahun yang lalu saat saya kesini belum ada subtitles bahasa inggris dan senangnya sekarang sudah tersedia. Setelah film kartun selesai, layarnya terbuka ke atas dan langsung terlihat taman luas yang ternyata berada di rooftop gedung museum. Adit langsung sigap minta saya berpose dan saya dengan senang hati berpose dengan Ammar hahaha.

Di taman tersebut terdapat Pintu Kemana Saja dan model taman dekat halaman rumah Nobita tempat ia suka tidur – tiduran di atas pipa – pipa besar. Ada juga patung P – Man dan Dorami di titik yang berbeda.

Di dalam museum juga terdapat restoran, namun hari itu cukup ramai karena sepertinya ada murid – murid TK yang sedang darmawisata. Karena perut kami sudah lapar, kami malas mengantri, dan bekal yang kami bawa ternyata tidak cukup untuk membuat naga di dalamnya diam, akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari museum dan mencari makan.

Sesampainya di Noborito Station mata kami tertuju ke sebuah supermarket yang menjual buah – buahan segar dan cukup murah, serta terdapat bento yang menggiurkan. Langsung kami beli dan di sebuah pojokan yang ada meja untuk makan kami menghabiskan bento tersebut dalam waktu kurang dari 30 menit. Laper atau doyan? hahaha.

Tujuan kami selanjutnya adalah Tsukiji Fish Market. Dari Noborito Station Kami naik kereta jalur Odakyu Line sampai 15 stop dan turun di Hibiya Station, lalu lanjut lagi dengan berganti jalur kereta dengan Hibiya Line dan turun setelah 3 stop. Perjalanan kami cukup lama, sekitar satu jam. Di kereta lumayan banget kami punya waktu tidur. Untungnya nggak kebablasan hehehe.

Sampai di Tsukiji Fish Market hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Karena sudah menuju musim dingin, sebelum jam enam langitnya sudah berubah gelap. Pas sampai di pasar, toko – toko sudah banyak yang tutup, yang masih buka kebanyakan hanya tempat makan saja. Sayang sekali padahal tujuan kami kesini selain mau coba fresh sushi adalah menemani Adit belanja pisau ikan. Akhirnya, daripada kadung kecewa kami memutuskan untuk makan saja. Kebetulan kami juga lapar.

Kami memilih salah satu kedai yang namanya dalam tulisan jepang. Alasan kami memilih tempat itu karena space yang cukup untuk parkir stroller dan pegawainya ramah sekali. Saat itu Ammar sedang tidur jadi stroller tidak mungkin kami parkir di luar kedai.

Saya memesan Big Rice Bowl with Tobiko and Sea Urchin sementara Adit pesan Eel Sushi. Minumnya dapat Cold Ocha gratisan yang dikasih se termos – termosnya.

Sekitar sepuluh menit kemudian pesanan Mas Adit datang. Terhidang di atas meja lima potong Eel Sushi yang di atasnya disiram saus kabayaki. Eel atau belutnya segar banget, nggak ada bau amisnya sama sekali. Ternyata rahasianya adalah mereka menyajikan belut yang ditangkap nelayan pagi itu, bukan belut frozen yang disimpan berminggu – minggu.

Nggak lama pun pesanan saya datang. Porsinya cukup besar bahkan untuk saya busui yang makannya rakus banyak pun nggak kuat untuk menghabiskannya. Kalau kata anak sekarang, sih ‘mau meninggal’ saking enaknya. Serius rasanya juga nggak enek sama sekali bahkan seorang Adit yang kurang suka hidangan laut jepang pun menikmati banget. Perpaduan sea urchin yang sedikit asin dengan nasi putih bulir pendek hangat yang manis, ditambah tobiko ukuran sedang yang meletup ketika digigit. Duh, jadi laper kan, gue!

Selesai makan, hari sudah gelap sekali dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Setelahnya kami berencana untuk ke Ginza buat belanja di GU dan Uniqlo. Pas saya cek di Google Maps, ternyata Tsukiji – Ginza hanya 1 stop naik kereta tapi juga bisa dengan 15 menit jalan kaki. Adit merayu saya untuk jalan kaki yang (dengan berat hati) akhirnya saya iyakan. Walaupun Ammar nggak rewel, tapi saya cukup khawatir dia masuk angin. Sebelum kami jalan saya cek dulu selimutnya terpasang cukup hangat dan canopy stroller saya lebarkan.

Eh ternyata saya nggak nyesel jalan kaki. Di tengah perjalanan, Adit menemukan sebuah toko roti. Tokonya ramai orang mengantri dan di depan terdapat poster ‘The number 1 bread in Asia’. Dari jarak 500 meter bisa tercium wangi rotinya. Lagi – lagi saya nggak bisa memberi tahu nama tokonya karena nggak tahu cara bacanya.

Sampai di dalam ternyata roti yang tersisa untuk dijual hanya roti tawar. Untuk 1 whole bread dibanderol seharga 1300 yen. Cukup mahal untuk sebuah roti tawar namun dibanding dengan ukurannya yang besar ya worth it, lah. Kami langsung mencoba roti tersebut sembari berjalan. Sumpah, itu roti tawar terenak yang pernah saya makan! Tipikal milk bread super lembut yang susunya berasa dan kulitnya garing. Bukan garing seperti roti bakar tapi ada sensasi crunchy nya gitu, deh pokoknya. Saya sampai susah menjelaskan saking enaknya. Apalagi rotinya baru keluar dari oven jadi kami menikmati rotinya panas – panas. Aaakk, pokoknya kalau ke Tokyo saya pasti bakal beli lagi.

Setelah sampai Ginza saya puas – puasin keliling GU. For those who doesn’t familiar with GU, jadi GU ini anak perusahaannya Uniqlo. Bedanya GU lebih bertema casual dan harganya lebih murah. Saya memberi beberapa potong baju dan satu celana berwarna putih.

Sayangnya saya nggak sempat ke Uniqlo karena Ammar sudah mulai rewel. Sudah capek juga mungkin seharian jalan – jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Apartemen dan sebelum naik kereta saya jajan es krim Matcha dulu. Dingin – dingin minum es krim? Biarin, kapan lagi saya bisa makan es krim Matcha asli dari tempat asalnya :p

Sebelum sampai di Apartemen, ternyata ada kedai Takoyaki. Kami pun mampir lagi untuk jajan. Di Jepang emang uang tuh rata – rata memang habis untuk memuaskan perut.

8 thoughts on “Japan Travel Journal #3 : Fujiko F. Fujio Museum & Ginza at Night”

  1. Aku trakhir ke museum Doraemon 2017. Filmnya juga blm ada teks Inggris :D. Syukurlah kalo ada,soalnya setelah pandemi, negara pertama yg bakal aku datangin LG ya Jepang :D.anak Lanang yg blm pernah ksana udh nagih janji Mulu Krn dia pgn k rumah Doraemon kayak kakanya :D.

    Aku paling suka susu coklat di kafenya itu mba. Ya ampuuun manisnya pas, anget2 LG winter pulaaaa :D. Cucooook banget 😀

    Ohhh aku ga tau juga kalobisa mampir ke Tsukiji dari museum.gagal Mulu ke fish market Tsukiji. Padahal aku pgn jajan2 aneka seafood di sana. Akhirnya 2019 cm bisa ke fish market hakodate. Itu juga murah dan enak.tp ga Segede Tsukiji.

    Issh Jepang memang ga bosenin ya mba. Kue2 dan roti disana memang yummmyyyy semuaaa hahahah. Kdg aku suka kalap, yg ptg liat bentuknya lucu, beli deh :p

    Like

    1. Museum Doraemon ini kecil tapi nagih ya mba, selalu pengen didatengin lagi. Sayang aku nggak sempat nyobain makanan di kafenya huhuu 😦

      Bisa banget mbaa, walaupun jauh beneran kayak naik kereta dari Bekasi ke – Tebet kayaknya karena lama hahaha. Tapi kalau bawa anak kecil lumayan banget bisa istirahat di kereta.

      Like

  2. Ini mah bukan hanya impian anak-anak berkunjung ketemu Doraemon, mamak-mamak kayak saya juga pengen berkunjung di sini.
    Meskipun kadang beberapa ornamennya bisa kita temukan di beberapa tempat, kayak pintu ajaib warna pink itu, kaan hari pernah mejeng di sebuah mall 😀

    Tapi tetep aja ya, kalau adanya di sana lebih kerasa euforianya 🙂

    Like

  3. seandainya pintu kemana saja beneran ada, aku mau order satu.
    wish list bisa berkunjung ke museum ini, bisa nostalgia sama doraemon, nobita, betah deh kayaknya nanti hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s