Suami yang Lebih Jago Dalam ‘Urusan Perempuan’

Sekali – sekali boleh lah, ya nulis topik tentang pernikahan dan ngomongin suami sendiri. Kalau ngomongin orang lain kan nanti malah dibilang julid, jadi ngomongin suami aja karena pasti dia setuju – setuju aja hehehe.

Adit, suami saya, adalah seorang pastry chef. Dia sih sebetulnya lebih senang menyebut dirinya sebagai ‘tukang kue keliling’ karena pekerjaannya di dunia hotel memaksa untuk keliling dari satu hotel ke hotel yang lain, berpindah – pindah kota bahkan kadang menclok di negara asing untuk beberapa waktu yang lama. The point is, sudah pasti Adit bisa masak.

Seringkali tiap kali ada yang mengetahui apa pekerjaan Adit, saya diberikan komentar semacam “Enak banget suaminya pinter masak” atau “Wah, asyik banget tiap hari dimasakin terus tinggal nyam nyam aja”. Sebagai istri yang baik, jawaban saya hanya nyengir saja. Karena punya suami pintar masak itu ada suka dukanya.

Enaknya jelas dong, apapun bisa dibuat. Mau makan apa tinggal sebut. Dari menu masakan rumahan sampai restoran internasional. Adit tinggal kasih daftar belanjaan dan saya dengan senang hati akan pergi untuk beli. Setelahnya dia akan masak and everything will taste better when he do the cooks. Kayak contohnya kemarin sempat viral Korea Garlic Bread, Adit bisa langsung buat dan bahkan kami pun sempat menjual kepada teman – teman terdekat. Soal rasa? Nggak perlu ditanya karema beneran enak *banggain suami sendiri lol. Promosi dikit, boleh di follow instagram jualan kami di @goela.pasir hehehe 😀

Enaknya lagi saya jadi kayak berasa penonton bayaran yang lagi nonton reality show masak – memasak. Segala aksi seperti flapjack atau memotong sayur super cepat jadi pemandangan saya setiap kali Adit memasak. Terus saya juga jadi tahu istilah – istilah dalam dunia kuliner seperti thawing, pan – seared, resting, dan compote.

Kalau lagi travelling, destinasi jalan – jalan saya nambah. Biasanya sekedar berkunjung ke pusat perbelanjaan, tourist photospot, atau museum sekarang jadi nambah ke toko peralatan bahan masakan dan chef outfit store macam ChefWorks.

Tapi beneran dimasakin setiap hari nggak, sih seperti asumsi orang – orang?

TIDAK SAUDARA – SAUDARA.

Sehari – hari pekerjaan Adit memasak, jadi kalau di rumah dia harus memasak lagi ya dia pasti capek.

Terus kapan dong masaknya?

Kalau ada perayaan spesial seperti anniversary atau salah satu dari kami ulang tahun, Atau yaa, kalau Adit lagi mood. Sekarang, sih lumayan sering masak karena kami punya usaha rumahan. Dulu sih jarang, saya harus merayu – rayu dulu dan mesti pakai embel – embel ‘tolong bantuin aku, dong’ yang mana ujungnya Adit will do the rest lol.

Dan kalau orang – orang tetap berasumsi punya suami bisa masak itu enak, saya tetap bilang ya ada enggak enaknya.

Chef itu biasanya rapi. Pas lagi masak, dikit – dikit ngelap, kotor dikit langsung dilap, sementara saya biasanya ya diemin aja dulu peralatan atau bagian dapur yang kotor. Nanti kalau masakannya sudah jadi baru beresin semuanya. Dan yang kayak gitu bakal memicu komentar Adit seperti

“Duh, berantakan banget, sih”

“Aduh kok kotor gini? Harusnya langsung dibersihin dong”

Saya hanya bisa merespon seperti ini

Oh, setiap ada rekomendasi restoran atau tempat makan enak menurut sosial media dan saya ngajak kesana untuk nyobain, jangan dikira akan langsung dibilang enak. Pasti adaaa aja komennya. Entah terlalu kering ketika proses dimasak, atau misal ketika kami makan steak di restoran ‘Daging Suci’ terus dikomen dagingnya di presto dulu biar empuk, atau misal saya beli kue cokelat yang ternyata dia tahu ini bahannya pakai cokelat merk apa -__-

Awalnya saya kira ini hanya suami saya yang kelakuannya begini. Ternyata nggak lho, hampir semua chef begini ternyata. Pleasing a person who good at cook is hard, actually. Makanya kalau ada tempat makan yang saya rekomendasi dan dia suka, wuihh rasanya kayak pas skripsian terus dosen pembimbing bilang “oke, layak sidang”.

Jadi, bagaimana pandangan dari sisi saya yang punya suami yang ahli dalam pekerjaan yang menurut orang, well ‘cewek banget’?

Sudah pasti senang, dong. Banyak orang di luar sana yang kepengen belajar masak sampai ambil les segala sementara saya punya guru pribadi di rumah. Ditambah memasak merupan suatu skill yang berguna banget terlebih lagi keadaan seperti sekarang. Karena semua orang pasti tetap butuh makan, dan kami hanya perlu cari tahu tren makanan yang sedang booming saat ini.

Jujur kadang saya suka merasa agak gimanaa gitu. Bukan merasa tertekan, tapi saya jadi minder karena urusan mengurus rumah apalagi masak, saya nggak begitu jago. Walaupun setiap kali masak Adit nggak pernah komentar negatif dan bilangnya masakan saya enak – enak aja (curiga sebetulnya ini usaha Adit aja buat nyenengin saya).

Pernah ada mantan saya yang tahu kalau saya akan menikahi tukang masak dan saya diketawain habis – habisan karena dikira saya menikahi ‘banci’. Wow, sangatlah kolot dan picik sekali 🙂 Anyway, masih ada nggak sih jaman sekarang yang masih punya pikiran kayak gini?

Adit pernah cerita, rata – rata chef di dunia itu berjenis kelamin laki – laki. Siapa yang nggak kenal Gordon Ramsay? Pemilik reality show paling terkenal di jagat pertelevisian dan restorannya yang terletak di banyak belahan dunia semua mendapatkan penghargaan Michelin Star. Anthony Bourdain, Jamie Oliver, Grant Achatz, you name it and they are damn straight guys. Laki – laki cenderung berpikir logis dan nggak panikan apalagi moody kalau di dapur. Dan juga ternyata, suhu tubuh laki – laki itu lebih dingin daripada perempuan yang mana itu juga menjadi kunci kenapa masakan nggak gampang lumer.

Justru saya sangat respek sama laki – laki yang menguasai hal – hal yang dianggap hanya bisa dilakukan perempuan. Artinya dia dibesarkan dalam keluarga yang tidak ada diskriminasi gender. Laki – laki yang begini biasanya lebih menghargai perempuan. Nggak menganggap serta – merta pekerjaan rumah tangga itu ‘nggak laki banget’.

Eh tapi urusan perempuan atau girl stuff itu kayak memasak atau pekerjaan rumah tangga, ya. Kalau jagonya dalam hal dandan sampai bisa tahu merk dan seri lipstik yang dipakai perempuan mah, waduuhh saya kurang paham juga, Sis 😀

Kalau tanggapan kalian tentang laki – laki yang jagoan dalam urusan perempuan, gimana?

18 thoughts on “Suami yang Lebih Jago Dalam ‘Urusan Perempuan’”

  1. Saya juga respect sama laki-laki yang paham urusan perempuan seperti dapur dan bersih-bersih rumah, mba 😁 buat saya, laki-laki yang paham urusan domestik akan cenderung lebih peka karena mereka otomatis tau kalau urusan domestik bukan sesuatu hal yang mudah untuk dikerjakan 🤭

    Eniho, saya yakin pasangan mba bilang masakan mba enak-enak saja karena pada kenyataannya memang enak betulan 😆 hehehehe. Ps: laris manis untuk usahanya mba, keren lho bisa buat garlic bread *acung 2 jempol* 😍

    Like

    1. Betul mba, mereka yang paham urusan domestik dan ringan tangan buat membantu itu biasanya lebih menghargai dan support pasangannya.

      Aamin, nanti someday kalau kami bikin lagi rotinya saya kirimkan ke mba Eno ya supaya ikut nyobain hehehe

      Like

  2. Seru bacanya kak 😆 selama ini aku berpikir pasti enak kalau punya pasangan yang jago masak tapi ternyata begini ya sisi lain punya pasangan yang jago masak 😂
    Enaknya, pengetahuan akan makanan jadi sangat luas ya kak 😁

    Menurutku laki-laki yang bisa masak itu bukan artinya banci. Malah keren, chef Willgoz, Arnold, Juna yang dari lokal aja laki banget gitu, jadi pernyataan kalau chef laki itu banci, sangat amat nggak valid 😂
    Dan laki-laki yang jago dalam urusan yang cewek banget itu keren. Aku juga respect sama mereka, kecuali kalau jagonya make-up, beda cerita soalnya kalau jago make-up biasanya jadi nggak laki banget lagi 😂

    Like

    1. Hahaha bagi aku yang kalau masak nggak secepat dia dan sebersih dia, adaaa aja part diomelin karena (menurut dia) dapurnya kotor. Padahal dapur kan memang buat dikotorin, ya? *alasan lol*

      Justru malahan laki-laki yang profesinya memasak itu katanya kebanyakan *ahem* playboy lho, karena bisa keliatan impressive di depan perempuan dengan keahlian mereka 😀

      Like

      1. Huahahaha berasa kayak lagi preassure test Masterchef gitu ya kak 🤣 sejatinya memang begitu, dapur untuk dikotorin *malah ngomporin* #kaborrr

        Lah, iya, masuk akal juga sih. Pantas kalau laki-laki yang bisa masak, daya ketampanannya jadi bertambah kayak chef Juna gitu #plakk *itu mah emang udah ganteng dari sononya

        Like

  3. saya fine-fine aja kalau laki-laki jago masak, karena memang bener sih kebayakan chef itu cowo, makanya kalo sempet diketawain karena nikah sama koki, well yg ketawain memang pikirannya sempet.

    Like

  4. Waaaah mba ayuuuuuu, dulu aku malah pengen bisa dapet cowo yg begituuu hahhahaha. Mikirnya, enak nih kalo mau makan apa, bisa dibikinin :D. Walopun realita ga dapet yg gitu sih :p.

    Oke oke ajaaa ya kalo cowo bisa melakukan pekerjaan yg berbau wanita. Malah saluuuut akunya. Dipikir2 iya sih chef itu kebanyakan cowo. Kok aku malah ga tau banyak chef terkenal yg cewe. Cuma beberapa doang ingetnya :p.

    Apa Krn butuh kesabaran ya dlm hal masak memasak ini, dan cewe biasanya kurang di situ hihihihi.

    Papaku punya toko2 roti di Medan, dan semua chef nya cowo juga :D.

    Like

  5. Hallo Mbk Ayu, salam kenal yaaa.

    Saya relate banget sama ceritanya Mbak Ayu nih. Ilmu perdapuran saya awal-awal semua diajarin semua. Meski cuma tumisan mulu, itu bekal banget. Hingga akhirnya saya berani untuk nyoba-nyoba ide masakan lain dengan bermodalkan youtube. Tapi, pelajaran tentang urusan aki-laki dan perempuan sekarang ini semakin samar. Karena baiknya kan keduanya saling memahami, nggak melulu apa-apa hanya perempuan atau laki-laki saja.

    Semoga sukses ya Mbak usahanyaa.

    Like

  6. Waaah chef pastry, jago baking dong ya. Btw, wajar sih kalo profesi dan pekerjaan sehari-harinya adalah chef, pastinya udah capek banget kalo di rumah juga harus masak memasak. Kecuali kepepet dan emang mood. Pasti dia udah muak juga masak melulu 🤣. Orang kan pasti butuh istirahat 😁.
    Suamiku pernah mencicipi pekerjaan di dapur kapal pesiar luar, untungnya sih ga lama-lama. Kalau kelamaan mungkin dia akan mirip suaminya Ayu *lol*. Menurutnya, rata-rata pekerja di bidang dapur profesional itu justru laki-laki, termasuk chef, karena sesungguhnya pekerjaan memasak itu bukan pekerjaan ringan. Pekerjaan dapur itu berat, butuh tenaga dan fisik lebih. Apalagi kalau harus memasak dalam jumlah besar dan cepat, tenaga jadi nomor satu. Jadi ga heran kalau yg kerja di dapur justru banyakan cowok.

    Like

    1. Halo Mba Maya,

      Yak betul sekali, pastinya dia ngerasa gerah ya seharian di dapur, masak iya di rumah harus berhadapan dengan dapur lagi 😀
      Wow hebat banget chef on cruise, sering jalan – jalan (dan dapet oleh – oleh) pastinya ya, Mba hihihi

      Like

  7. Wah ternyata suami Mba Ayu seorang chef yaa. Aku juga mengira kalau seseorang yang pekerjaannya masak, pasti tiap hari masak di rumah juga. Ternyata nggak juga toh. Tapi masih untung bisa dimasakin di hari spesial ya hihi

    Terus aku malah ketawa dong ngebayangin suaminya Mba Ayu mengomentar hidangan di restoran wkwk soalnya tuh ini sering kejadian dengan mertuaku. Beliau emang suka masak, jadi tiap kali diajak makan di restoran Chinese food, beliau pasti berkomentar hidangannya kurang ini lah kurang itu lah, nggak lupa bilang “ini mah mama bisa bikin sendiri”, yang kemudian ditatap judes oleh anak-anaknya 🤣

    Soal kenapa chef kebanyakan cowok, aku jadi teringat juga kalau kebanyakan tukang bakmie itu adalah laki-laki. Katanya sih kalo bikin mie itu butuh kekuatan ekstra, dibanting-banting, diputer-puter segala macem, maka dari itu kebanyakan tukang mie adalah pria. Make sense juga sih. Tapi chef perempuan juga nggak dikit sih, yaa. Itu ada Chef Renata yang rasanya nggak mungkin dia baper di dapur, cool banget doi mah 🙈

    Btw, semoga sukses jualannyaa ya, Mba! Seru sekali bisa jualan bareng suami 😀

    Like

    1. Iyaa, kalo pembelaan suami ku ‘masa aku udah kerja di dapur terus di rumah ke dapur lagi, kapan aku ngademnya’ 😝😂

      Ahh Mba Jane sebut Chef Renata aku jadi keinget sama Karen Carlotta si empunya Union, dan jadi pengen red velvet cake mereka sekarang hahahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s