Menjadi Satu Tim Dalam Membesarkan Anak

Saya masih ingat waktu duduk di bangku SMA saya pernah punya satu teman dekat yang sering sekali berselisih paham dengan adiknya. Teman saya ini perempuan dan adiknya laki – laki. Teman saya, sebut saja namanya Pinky sangatlah mandiri, tegas dan cenderung keras kepala. Sementara adiknya, Blue (diskriminasi warna banget ya saya? Lol) rada – rada anak mami dan sukar untuk memilih. Oh ya, fyi, perbedaan umur mereka sekitar tiga tahun.

Pinky dan Blue ini kurang akrab, bahkan sering tidak akur. Pinky dekat sekali dengan Papa nya sementara Blue sangat sangat dimanja oleh Mamanya. Dulu, Pinky sering cerita kalau mereka berantem bahkan orang tua nya bukan malah menjadi penengah tapi malah ikutan bertengkar karena masing – masing memihak dan membela anak kesayangannya.

Sebetulnya setiap anak pasti punya kedekatan yang lebih terhadap salah satu orang tua. Saya contohnya lebih dekat dengan Papi. Saking dekatnya, waktu sebelum saya menikah kami sering sekali nonton berduaan, saya ditemani sekedar nongkrong di kafe – kafe yang baru, bahkan kadang kami suka nyalon bareng. Tapi, ada saatnya jika saya dan Mami berselisih paham Papi akan jadi orang yang netral. Kalau saya salah saya juga dimarahi, dan kalau saya dan Mami hanya catfight yang sebetulnya hanya adu bacot ala perempuan ya Papi akan mengingatkan kami berdua.

Curhatan Pinky mengenai keluarganya ini selalu saya ingat dan dijadikan bahan obrolan utama dengan Adit yang mana dulu masih berstatus calon suami. Saya bilang, kalau suatu saat punya anak kita harus satu suara. Tidak boleh ada cerita misal anak kami melakukan salah dan Adit datang membela, begitu juga sebaliknya.

Ternyata Adit juga setuju dengan pendapat saya. Bahkan dari awal menurut Adit agar kami bisa kompak dan satu suara membesarkan anak ya kami harus jadi tim yang solid dulu. Dengan kompak ini baru deh kami bisa membesarkan anak – anak yang (mudah – mudahan) bertanggung jawab dan tidak manja.

Terus, Bagaimana caranya agar orangtua bisa menjadi tim yang solid?

Memaafkan Segala Pengalaman Sewaktu Kecil

Ini adalah langkah paaaling awal menurut kami. Ada, kan mungkin pasangan yang dulu waktu kecil memiliki orangtua yang toxic. Contoh mudahnya misal ada yang dulu sering dipukul oleh orangtuanya atau sering dibanding – bandingkan dengan adiknya sendiri. Caranya bisa dengan menulis segala macam pengalaman tidak enak dan luka lama lalu bisa dilanjutkan dengan berkaca dan bilang “semuanya sudah aku maafkan, kok” ke diri sendiri sambil tersenyum.

Tunjukkan Sikap Orangtua yang Saling Menyayangi

Hayo, siapa yang masih malu pelukan atau cium pasangan di depan anak? Nggak perlu malu, ah. Kan udah jadi pasangan halal. Justru anak harus tahu kalau Papa dan Mama nya saling menyayangi. Saya dan Adit kadang mencium pipi atau kening satu sama lain di depan Ammar sambil memberikan penjelasan kalau mengekspresikan ciuman itu baiknya hanya kepada keluarga inti.

Usahakan tidak bertengkar di depan anak. Pastinya kami pernah kelepasan bertengkar di depan Ammar tapi setelahnya kami usahakan kalau memang harus beradu pendapat ya di tempat lain dan tidak perlu sampai teriak – teriak.

Satu Suara Di Depan Anak

Kalau Ibu menasihati atau mengingatkan anak atas kesalahannya, Ayah sebisa mungkin satu suara. Tidak perlu ikut menyalahkan, cukup menjadi pihak yang netral atau tetap mengingatkan anak untuk mendengarkan nasehat Ibu.

Nah, kalau memang ada perbedaan pendapat bisa dibicarakan saat anak sudah tidur atau kapan pun yang penting tidak di depan anak langsung. Jika anak melihat orangtuanya beradu pendapat atau terdengar salah satu membelanya, bisa – bisa nantinya anak akan bersikap tidak respek dan memihak salah satu dari orang tuanya.

Tidak Saling Mendominasi

Ayah dan Ibu punya peran yang sama penting. Meskipun saya seorang Ibu Rumah Tangga, tapi tidak serta – merta seluruh pekerjaan rumah dan mengurus anak diserahkan ke saya. Kami berbagi tugas, kalau pagi Adit mengerjakan kegiatan domestik seperti mencuci baju, menyapu, dan mengepel, ya saya kebagian menjemur pakaian, memandikan dan memberikan Ammar makan.

Dalam hal mengurus Ammar pun kami bergantian. Kalau saya pengen istirahat sebentar dan butuh Me – time, Adit yang akan menemani Ammar bermain, membaca buku, dan juga mengajak berenang di kolam plastiknya.

Saya dan Adit memang belum banyak pengalaman dalam membesarkan anak. tapi poin – poin di atas tadi sebisa mungkin kami adaptasikan di rumah.

Kira – kira ada tips supaya bisa kompak membesarkan anak yang hebat dari pembaca? Komen dong di bawah 🙂

*gambar dari sini

Bisous,

A

3 thoughts on “Menjadi Satu Tim Dalam Membesarkan Anak”

  1. Duh, satu suara dan dominasi dalam parenting kadang masih suka kecolongan. Mungkin karena sehari-hari aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak, sementara suami bekerja kan. Jadi saat suami mencoba untuk mendidik si anak, tanpa sadar aku kayak ngedikte dia gitu lho, Mba ): karena aku ngerasa lebih tau banyak tentang anak dari pada dia hiks Padahal yaa harusnya gak boleh kan, biarlah suami ngedidik dengan caranya, yang penting value nya nggak keluar jalur.

    Jadi sekarang ini kalo ada sesuatu yang mau disampaikan ke si anak, kami rembukan dulu. Biar satu suara, sepakat dan nggak saling memihak hihi

    Makasih Mba Ayuuu untuk tips di atas 😀

    Like

    1. Susah banget buat satu suara sama suami karena pastinya kita dibesarkan di lingkungan dan kebiasaan yang beda, tapi harus bisa! demi membesarkan anak – anak yang hebat 🙂

      Hahaha apalagi kita SAHM jadi merasa lebih tau ya, Mba gimana sifat dan anak kita karena 24 jam nempel

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s