A New Normal, They Said

Wow, ternyata sudah setahun berlalu semenjak postingan terakhir saya tentang hari jadi pernikahan Saya & Adit. Nggak kerasa.

logan-weaver-gTyj_tABGsQ-unsplash

  Padahal, draft di dashboard saya sudah banyak banget; tentang liburan keluarga besar kami, tentang liburan bertiga Mas Adit & Ammar yang sekaligus dalam rangka merayakan ulang tahun Ammar, tentang saya & ibu – ibu decembirth babies yang bikin hajatan untuk anak – anak kami, milestone Ammar hingga satu tahun ini, sampai akhirnya saya yang pengen (sok) kasih surprise dengan berubahnya status dari ibu bekerja menjadi stay – at – home Mom. Sayangnya niat hanya tinggal niat.

  Oke, yang penting kita lanjut aja

  Tahun 2020 ini sudah sampai di bulan Mei, yang mana sudah berjalan hingga kuartal ke-dua. Sayangnya, tahun ini berbeda dari sebelumnya; sebuah pandemi yang sama tetangga sama sering disebut ‘Tante Rona’ menyerang tiap belahan dunia secara merata. Semua orang diwajibkan untuk melakukan lockdown atau di negara kita terdapat kebijakan bernama PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar.

  Bekerja sekarang diwajibkan dari rumah. Mau keluar rumah pun, yang biasanya cukup dengan dresscode hotpants, kaos asal, dan dan sendal jepit sekarang kalau bisa lebih tertutup dan menggunakan masker, pulangnya pun langsung ngibrit mandi sebersih mungkin sebelum kontak dengan penghuni di rumah. Kita saat ini sedang menyaksikan salah satu peristiwa bersejarah.

  Buat saya dan Adit, di tahun 2020 ini banyak perubahan yang terjadi mulai dari sebelum Corona datang menyerang Indonesia. Kedua orangtua saya & adik bungsu saya bermigrasi ke Bandung sekitar awal tahun. Akhirnya Papi mewujudkan cita – citanya untuk menghabiskan hari tuanya di kota tempat dia menimba ilmu dulu. Saya & Mas Adit yang tadinya mau pindah ke rumah kami di kawasan Tangerang urung karena diminta menunggu rumah Papi & Mami. Beruntungnya, beberapa hari sebelum Orangtua saya pindah, rumah kami didatangi seseorang yang berniat untuk menyewa. Nggak pake lama, harga yang kami tawarkan disetujui lalu beberapa hari kemudian mereka mulai pindahan. Alhamdulillah dapet pemasukan tambahan.

  Sayangnya, pemikiran itu hanya sebentar. Tidak beberapa lama Corona mulai merebak di Indonesia. Orang – orang banyak yang mulai panic buying. Saya yang juga butuh hand sanitizer, masker, dan vitamin jadi kelimpungan dan harus mengeluarkan uang 2-3 kali lipat untuk mengisi persediaan tersebut. Belum lagi kebutuhan biaya sembako dan rempah – rempah seperti kunyit, jahe, temulawak yang harganya edan betul. Uang belanja yang biasanya bisa untuk 2 minggu sekarang habis hanya untuk 5 hari.

  Sedihnya lagi, sebagai seorang pekerja lepas yang menjual jasa sebagai tukang rias keliling yang mana sekarang hits dengan sebutan MUA banyak mendapat berita buruk dari klien – klien saya; acara mereka batal sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Acara seperti akad nikah, resepsi, tamu undangan, lamaran, wisuda semuanya dibatalkan. Kalaupun ada klien yang akhirnya jadi menikah pun melangsungkan acara ijab qabul di KUA.

  Ya, yang sebelumnya adalah sebuah keharusan bagi perempuan untuk tampil manglingi di acara mereka kini jadi nomor kesekian. Yang penting halal.

  Mas Adit yang bekerja di sektor pariwisata juga lumayan berasa imbasnya. Biasanya hampir setiap minggu keluar kota untuk dinas sekarang setiap hari di rumah karena kebanyakan hotel yang berencana untuk dikunjungi terpaksa ditutup. Pendapatan juga berkurang dari biasanya, padahal di rumah masih ada Imah – asisten rumah tangga kami – yang harus kami gaji karena Imah nggak bisa mudik ke lampung jadi terpaksa dia bertahan hingga setelah lebaran di rumah kami. Kami juga masih harus bayar listrik pascabayar yang tagihannya dipukul rata dengan tagihan 3 bulan sebelumnya karena petugas tidak ke rumah dan asli, mahal banget bok!

  Mau ngeluh juga nggak berguna karena banyak orang yang lebih susah lagi dari saya. Kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, bingung mau pergi kerja keluar takut mati corona tapi kalau tetap di rumah malah mati kelaparan. Di Singapura pun, salah satu teman lama saya cerita kalau pemerintahnya cuma kasih bantuan senilai 600 SGD di bulan pertama.

  Saya cuma bisa bilang Alhamdulillah.

  Kenapa? Alhamdulillah ternyata masih ada sisi baik di tengah musibah yang terjadi sekarang ini. Contohnya apa? Semenjak #dirumahaja saya jadi rajin ke dapur buat ngulik resep baru di cookpad. Saya si penggemar grabfood dan gofood sekarang bisa bikin macam – macam makanan, salah satunya mi ayam. Iya, mi ayam ala abang – abang yang kuah kuning, pake bakso dan kerupuk pangsit ini bisa saya buat sendiri TANPA BANTUAN MAS ADIT! (ini harus ditulis dengan Capital saking saya bangga sama diri sendiri hahaha). Ditambah lagi dipuji sama sang suami (walau saya nggak tau apakah pujiannya ini benar atau nggak). Bangganya minta ampun.

  Sisi baiknya lagi, saya dan Mas Adit sekarang punya usaha kuliner, namanya Goela Pasir. Kami baru coba jual bubur sumsum biji salak, siomay ayam, donat kentang, dan barusan tadi sore perdana saya jual mi ayam kebanggaan saya itu. Lagi – lagi cuma bisa bilang Alhamdulillah karena yang awalnya hanya jual untuk ibu – ibu komplek eh dicobain sama beberapa teman dekat, teman berstatus selebgram jadi laku dan sudah beberapa kali dipesan sama orang yang belum dikenal sama sekali. Sangat bersyukur sekali.

  Oh ya, kemarin diingatkan sama Icloud kalau tahun lalu saya sedang berada di bandara Soekarno – Hatta buat jemput Mas Adit yang pulang dari Las Brujas, Cuba. Saya jadi ingat tahun lalu saya menulis postingan tentang anniversary itu sambil nangis karena terpaksa merayakan dengan sarapan di satu hari sebelum hari jadi kami yang sebenarnya karena tepat di hari anniversary kami Mas Adit harus berangkat ke Cuba.

  Saya jadi ingat jaman – jaman masih baby blues; baru beberapa minggu kembali ke kantor setelah 3 bulan cuti hamil, ditinggal suami, masih adaptasi Ammar yang sedang wonder week, ditambah saya stress dan ASI jadi seret. Apalagi, saat mas Adit disana sibuknya bukan main dan cuma bisa video call sebelum dan setelah bekerja. Perlu diingat perbedaan waktu Cuba – Jakarta adalah 11 jam, jadi kalau dia baru bangun ya saya udah siap – siap nidurin Ammar. Pernah internet disana mati hampir 52 jam. Wah, saya langsung cemas luar biasa. Cuba negara komunis dan waktu itu Mas Adit disana sendiri tanpa ada orang kantor yang lain.

  Lebih cemas lagi mengingat sebelumnya waktu dia baru tiba di bandara, pihak penjemputannya nggak ada dan dia terpaksa pergi ke Indonesian Embassy naik taksi yang mana notabene drivernya tidak bisa berbahasa inggris. Tahun lalu saya cuma bisa nangis nahan kangen dan nyoret – nyoret kalender nunggu kapan hari ini datang.

  Tahun ini sudah 2 bulan kami bertiga di rumah, keluar cuma buat ke pasar (saya agak kapok belanja sayur online karena pas datang banyak yang kurang bagus atau masih mentah) atau supermarket. 24 jam saya habiskan sama Mas Adit dan Ammar. Banyak ngobrol, banyak adu argumen juga. Wajar lah, ya namanya suami istri. Untung saya pake KB karena 99% aman dari kebobolan (semoga saya nggak masuk ke barisan 1% nya). Waktu merayakan anniversary pun bikin steak buat makan siang dan ngobrol ngalor – ngidul sampe akhirnya ketiduran. Sederhana namun bermakna.

  Katanya pandemi ini berakhir di bulan Juni. Saya cuma bisa mengamini. Ammar juga ikut mengamini (sekarang dia sudah bisa bilang ‘Min!’). Semoga kita semua selalu dalam keadaan baik dan jauh dari penyakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s