Amaury’s Birth Story

 
  

  Ternyata benar kata orang, kalau sudah punya anak memang harus pintar – pintar untuk mencuri waktu melakukan suatu hal supaya jadi quality time. Sama seperti menulis blog, kadang rasanya malas sekali untuk sekedar buka laptop kalau ada waktu senggang, eh giliran anaknya lagi rewel malah kepengen banget nulis. Dasar manusia hahaha.

  Kali ini, saya akan melanjutkan cerita tentang persalinan saya. Sebelumnya saya sudah menuliskan cerita awal saya mengetahui kehamilan, perjalanan semasa trimester pertama dan kedua, dan detik – detik sebelum akhirnya harus melahirkan.

  THE DAY
  Pagi itu hari Jumat. Saya terbangun pukul lima pagi dan ternyata Adit juga sudah bangun, sambil bermain handphone menunggu saya terjaga. “Selamat pagi”, ucapnya tersenyum kepada saya. Hari itu saya stay di rumah sakit hanya berdua Adit karena kebetulan di rumah saya waktu itu sedang tidak ada asisten rumah tangga sehingga Ibu saya harus menemani Adik saya yang paling kecil di rumah.

Foto berdua terakhir sebelum melahirkan

  Saya segera mandi dan keramas dengan cairan pembersih yang diberikan oleh seorang suster semalam. Saat di kamar mandi, saya bercermin dan terdiam cukup lama, memikirkan yang dikatakan dokter anak sore kemarin saat berkunjung ke kamar saya.

Beliau mengatakan besok akan ikut membantu persalinan saya dan akan menyiapkan inkubator serta ruang NICU untuk bayi saya. Karena bayi saya belum cukup umur, akan disediakan beberapa jenis alat pernapasan dan salah satunya dihargai 7,5 juta per pemakaian dan dokter juga bilang tidak tahu berapa banyak alat tersebut akan dibutuhkan oleh si bayi. Saya cukup terkejut tapi saya tetap melakukan afirmasi positif dengan janin.

  “Sayang, besok kamu pasti kuat. Nggak usah pake alat itu ya, Mama yakin kamu sehat dan jadi anak yang hebat”

  “Sayang, nggak usah bobok di ruang NICU, yaa. Jauh dari kamar Mama, Nak, lagian ruangannya dingin banget”

  “Sayang, besok pas lahir berat badannya dua kilo aja, yaa. Dua koma satu aja, deeh hihihi”

  Tiga kalimat itu berulang – ulang saya ucapkan sambil mengelus perut, dan dibalas dengan tendangan darinya, seperti dia mengerti apa yang saya ucapkan. Waktu latihan prenatal yoga, Mbak Mila dan Mbak Ochan seringkali bilang afirmasi positif dari sang ibu bisa didengar oleh bayi. Saat itu saya sangat berharap semoga bayi saya mendengar harapan saya itu.

  Setelah mandi, saya tidak sarapan karena diminta berpuasa sejak pukul dua pagi. Sambil membaca surat Ar – Rahman saya menunggu para suster untuk menjemput ke ruang operasi. Di kamar sudah ada ibu, kakek, nenek, dan adik saya datang.

  Tepat pukul 7.30 seorang suster datang membawa kursi roda untuk menjemput saya. Sebelum ke ruang operasi saya berpamitan dengan semua yang mengantar saya. Ada kejadian lucu yaitu detik – detik sebelum operasi malah Ibu saya yang merasa mual dan panik hahaha. Saya malah tenang – tenang aja, bahkan saking tenangnya suster yang menjemput malah bilang dia belum pernah lihat orang yang mau operasi setenang saya.

  Saat masuk ruang operasi, dr. Erwinsyah dan dokter anestesi datang. Beliau sempat menyapa saya sebelum melakukan tindakan dan menenangkan saya supaya jangan khawatir dan berdoa agar semuanya berjalan lancar. Setelahnya, dokter anestesi meminta izin saya untuk menyuntik tulang punggung saya memberikan obat bius. Saya diminta melengkungkan badan ke depan yang mana itu susah banget terhalang perut yang besar. Setelah disuntik saya diminta tiduran dan mengangkat kaki sampai saya mati rasa.

  Semua berlangsung begitu cepat. Saya terus – terusan merasa kedinginan tapi sebisa mungkin saya tahan. Sekitar 10 – 15 menit kemudian, ternyata anak saya sudah dikeluarkan dan dilarikan ke inkubator di luar ruangan operasi.

  “Anaknya cowok, Bu”, bisik suster yang berdiri di sebelah saya. Saya hanya mengangguk karena agak teler karena masih mengantuk. Tidak lama kemudian, dr. Siti Budiarti, dokter anak yang membantu masuk ruang operasi dan menepuk bahu saya.

  “Ibu, Alhamdulillah bayinya laki – laki. Beratnya 2,1 kilogram dengan panjang 42 cm”. Saya lagi – lagi mengangguk tetapi dalam hati saya agak kaget karena afirmasi yang saya bisikan ke anak saya sewaktu dia di perut semalam berhasil! Saya bersyukur Ammaury Gibran Nugroho bisa terlahir dengan selamat dan sehat meskipun saya tidak bisa menyentuhnya dan melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) seperti ibu lainnya.

  Setelahnya suster menawarkan saya mau disuntik obat tidur atau tidak. Saya mengiyakan karena sudah ngantuk berat tapi tidak bisa juga tidur. Suster menyuntikkan obat tidur dan setelah itu saya sudah nggak tahu apa – apa lagi sampai saya sudah didorong menuju kamar inap. Saat sebelum didorong saya bertemu suami saya dan dia tersenyum lalu mencium kening saya.

  Sampai di kamar, tubuh saya rasanya masih mati rasa karena tidak bisa digerakkan sama sekali dan ini berlangsung sampai pukul 12 malam. Setelah itu badan saya rasanya ngilu sekali. Saya juga belum bisa bertemu Ammar karena harus di-inkubator. 

  Kalau ditanya bagaimana perasaan saya, tentunya saya sedih sekali karena ingin memeluk dan menyusui anak saya. Saya bertekad untuk segera bisa berdiri dan berjalan supaya bisa menengok Ammar di kamar bayi. Oh ya, lagi – lagi afirmasi positif saya ke Ammar berhasil. Alhamdulillah Ammar tidak perlu menggunakan alat pernapasan yang super mahal itu dan tidak diinapkan di ruang NICU, hanya di ruang bayi biasa meskipun tetap di dalam inkubator.

  Hari kedua, saya berusaha setengah mati untuk latihan berdiri dan berjalan. Paginya saat di kamar mandi saya sempat menggigil dan lemas tapi sore hari saya sudah bisa berjalan walaupun seperti robot. Saya langsung minta Mas Adit untuk menemani saya ke ruang bayi untuk menengok Ammar. Rasanya terharu sekali melihat makhluk mungil yang ada di dalam inkubator tersebut.

  Setelah hari keempat saya sudah boleh pulang sementara Ammar baru bisa pulang dari rumah sakit setelah tujuh hari menginap. Dokter bilang untuk anak prematur, Ammar termasuk anak yang kuat karena tidak menggunakan alat pernapasan berlebih dan tidak ada masalah kesehatan lain. 

  Saat saya menulis ini, usia Ammar sudah jalan empat bulan. Saya dan suami tidak berhenti bersyukur sudah dititipkan makhluk mungil tersebut untuk kami rawat dan jaga dengan sepenuh hati. Saya masih ingat sebelumnya saya sempat khawatir karena mendengar beberapa orang bilang kalau wanita yang menstruasinya tidak teratur seperti saya akan susah mendapatkan anak. Alhamdulillah, ternyata Allah mempercayakan saya dengan menitipkan Ammar tidak lama setelah kami menikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s